Sejarah Desa

not image

1. Asal-Usul dan Perjalanan Migrasi Leluhur

Secara historis, masyarakat Desa Lung Kebinu merupakan bagian dari etnis Lundayeh. Leluhur mereka dikenal sebagai kelompok masyarakat yang berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain mengikuti kondisi alam, keamanan, serta dinamika kehidupan adat pada masanya.

Rangkaian perjalanan migrasi leluhur Lung Kebinu berlangsung panjang dan bertahap, dimulai dari:

  1. Long Apa' sia' (kini wilayah Malaysia) – tempat awal mereka bermukim.

  2. Berpindah ke Apa’ Kemalu.

  3. Berlanjut ke Apa’ Loh.

  4. Kemudian bermigrasi menuju Apa’ Barang (sekarang wilayah Mentarang Hulu).

  5. Pindah lagi ke wilayah Fagun Mayo.

  6. Dari sana berpindah ke Wat Lunuk.

  7. Terakhir mereka menetap di Kayu Mulang.

Di Kayu Mulang, kehidupan masyarakat mencapai fase pemukiman besar dan stabil. Di sinilah berdiri Ruma’ Kadang, sebuah rumah panjang besar (Meratu Beratetel / “Seratus Dapur”) yang menjadi pusat aktivitas sosial, adat, dan kekerabatan. Leluhur-orang tua masyarakat Lung Kebinu juga dimakamkan di Kayu Mulang, menjadikannya lokasi yang sarat nilai sejarah dan spiritual.

Masuknya pemerintahan kolonial Belanda ke wilayah Mentarang Hulu membawa perubahan baru. Dari Kayu Mulang, masyarakat mulai turun ke pinggir sungai dan menyebar ke beberapa titik:

  • Lung Kebinu

  • Mekatip

  • Gafid

Perpindahan ini menjadi cikal bakal lokasi pemukiman masyarakat saat ini.

2. Asal Nama “Tekelingen”

Wilayah tempat pemukiman masyarakat Lung Kebinu kini dikenal dengan nama “Tekelingen”. Nama ini berakar dari legenda tua mengenai Ngekiling, yang berarti melirik/menoleh/mengintip. Legenda tersebut berkaitan dengan kisah ular hitam (galau veribawi) di kawasan Riberuh Belaban. Seiring waktu, istilah tersebut melekat kuat dan tetap digunakan sebagai penanda wilayah pemukiman Desa Lung Kebinu hingga hari ini.

3. Sejarah Kepemimpinan Desa

Kepemimpinan lokal Desa Lung Kebinu terbagi dalam dua periode besar: sebelum dan sesudah kemerdekaan.

A. Kepala Kampung Sebelum Kemerdekaan

  1. Tuk Fengiran Surat

  2. Fadan Fengiran

  3. Yago Laban

B. Kepala Desa Setelah Kemerdekaan

  1. Labo Foret
  2. Ganang Laban
  3. Benung Mayun
  4. Bernadus Ganang
  5. Yakup Ganang
  6. Lepinus Ganang

Urutan kepemimpinan ini menandai transisi dari struktur adat tradisional menuju administrasi pemerintahan desa modern.

4. Dinamika Perjalanan Desa (1986–2007)

Periode ini merupakan masa perubahan sosial, ekonomi, dan kelembagaan yang cukup signifikan bagi masyarakat Lung Kebinu.

Peristiwa-peristiwa penting 1986–2007:

  • Perpindahan penduduk ke Marab untuk sementara sebelum nanti menetap di Lung Fala.

  • Penetapan Lung Fala sebagai tempat tinggal utama masyarakat Lung Kebinu selama beberapa dekade.

  • Transisi kepemimpinan dari Ganang Laban ke Benung Mayun, dilanjutkan oleh Bernadus Ganang, Yakub Ganang, dan Lepinus Ganang.

  • Aktivasi pemerintahan Desa Lung Kebinu, seiring dengan mulai berjalannya administrasi desa.

  • Masuknya program-program pemerintah pusat, yang membawa perubahan dalam bidang pembangunan dan layanan publik.

  • Mulai ditinggalkannya penggunaan perahu dayung/rakit, digantikan dengan transportasi yang lebih modern.

  • Awal pengembangan kebun gaharu, sebagai transisi dari pola ngusah (perladangan tradisional) menuju pola perkebunan.

  • Kelembagaan adat kembali aktif, mendukung penguatan identitas dan kearifan lokal.

  • Tahapan awal perpindahan kembali dari Lung Fala menuju tanah asal di Lung Kebinu.

Periode ini menandai langkah awal kebangkitan kembali masyarakat menuju tanah nenek moyang.

5. Perkembangan Desa (2007–2025)

Sejak tahun 2009, masyarakat memasuki fase pembangunan kembali desa di tanah asal, sekaligus mengalami mobilitas sosial yang penting.

Peristiwa-peristiwa penting 2007–2025:

  • Tahap lanjutan perpindahan penduduk dari Lung Fala kembali ke tanah asal Lung Kebinu.

  • Dimulainya pembangunan ulang Desa Lung Kebinu di lokasi historis.

  • Perempuan mulai keluar untuk mengenyam pendidikan tinggi, sebuah perubahan sosial yang signifikan.

  • Meningkatnya partisipasi perempuan dalam pemerintahan desa, menandai kemajuan dalam kesetaraan gender.

  • Terjadinya bencana banjir paling parah, yang menjadi salah satu catatan penting dalam sejarah bencana desa.

Periode 2007–2025 adalah masa pemulihan identitas, pembangunan, dan peningkatan kapasitas masyarakat Lung Kebinu secara menyeluruh.

Bagikan post ini: